
Setelah di bulan Nopember 2008, Jakarta disemarakkan oleh pesta para blogger, maka di Desember ini Jakarta kembali disemarakkan oleh pesta para pengrajin mobil.
Ratusan mobil akan dipajang dalam ajang temu pengrajin mobil dengan tema “the hottest hi tech modified motorshow”.
Di panggung Plenary Hall, Jakarta Convention Center, puluhan mobil di pajang di depan panggung yang terkesan megah. Sementara itu, di ruangan lain menuju arah panggung, berjejal mobil-mobil dengan aneka ragam penampilan [gak ada kesan dunia ini sedang kesandung krismon]
Saat arena pamer modifikasi ini belum dibuka secara resmi, maka kumpulan mobil itu terlihat tidak terlalu menyolok perbedaannya, dibanding versi “original”-nya. Namun ketika ajang ini mulai digelar, ketika para pengrajin mobil sudah mulai berdatangan menemani hasil modifikasinya, maka barulah terlihat kecanggihan masing-masing mobil tersebut.
Bagi pemirsa sendiri, ada yang menarik selain mobil yang dipajang, yaitu para pemandu [cewek] yang selalu berjaga-jaga disamping mobil yang dipajang.
Mereka adalah pajangan tersendiri yang membuat mobil yang dipajang bisa tidak terlihat kala mereka beraksi. Lenggak lenggok para gadis jelita itu tentu membuat para penonton makin betah berlama-lama di dekat mobil itu.
Meski begitu, bagi beberapa laki-laki atau penonton cewek [yang berjilbab], tontonan itu terlihat membuat mereka jadi jenggah sendiri. Bagaimana tidak, baju yang menutupi body para cewek itu tidak begitu lengkap, sehingga lebih mirip baju renang dibanding baju biasa.
Bagi para pemegang tustel, maka pemandangan ini rupanya menjadi santapan lezat mereka. Entah berapa “shoot” yang mereka tembakkan untuk para gadis itu.
Ada dua mobil yang terlihat dikerumuni oleh para peserta. Satu mobil yang terletak di kanan panggung dan satu lagi di sisi kiri panggung. Dua mobil yang letaknya saling berseberangan ini terlihat ramai dikunjungi penonton. Para “judge”-pun kelihatannya berdiskusi cukup lama dengan para pemilik mobil tersebut.
Yang menarik memang kemunculan mobil dari pengrajin YoGya yang terletak di sisi kiri panggung [dari arah penonton]. Pengrajin mobil dari Yogya yang baru kali ini tampil di Jakarta ini terlihat “njawani”. Back drop yang dipakai adalah suasana pantai [parang tritis] dengan ombaknya yang terlihat begitu segar.
Sang pengrajin sendiri, nampak santai dengan kaos [tanpa lengan] dan hanya memakai “sarung”, ketika menanggapi pertanyaan para “judge”.
Mobil yang dimodifikasinya juga terlihat tampil seksi, dengan warna-warna yang beraneka ragam. Ada sekitar 7 sampai 9 lapis cat untuk membuat mobil ini jadi berwarna warni.
Yang bikin mobil ini tampil lebih memukau adalah modelnya yang buatan sendiri. Asli buatan “CaH YoGyA”, kata Rudi Purnomo, sang pengrajin.
“Mobil ini tidak ketahuan lagi merknya, soalnya dibuat sendiri di bengkel Kupu-Kupu Malam. Isinya campur aduk dari berbagai sponsor, jadi bukan dari suatu merk mobil tertentu kemudian di modifikasi, tetapi dari tidak ada kemudian dirancang dan dilengkapi dengan material yang didapat dari beberapa merk. Gitu aja dab”, kata sang pengrajin.
Akankah mobil ini nantinya yang akan memenangkan kontes berhadiah mobil Mitsubishi Lancer ini, masih harus ditunggu beritanya pada hari Minggu, 7 Desember 2008 ini.
Kalau tulisan ini dibaca setelah tanggal itu, maka sudah ketahuan siapa yang memenangkan kontes ini.
Ternyata membuat mobil itu gak sulit, nyatanya seorang Rudi yang bersahaja, mampu menjadi pengrajin mobil, dan hal itu dilaksanakannya di paruh waktunya, karena pekerjaan pokoknya justru bukan di bisnis mobil.
Begitulah kalau sesuatu diserahkan pada ahlinya, maka akan baiklah hasilnya.
Sayangnya, acara ini disponsori oleh penghasil racun dunia, yaitu pabrik rokok. Entah kapan Indonesia ini akan terbebas dari sponsor pabrik rokok.
KuPu-KuPu MaLaM
Kadang kreasinya nggak masuk akal atau nyleneh, tapi justru mungkin memang disitu kelebihannya. Beberapa kali kreasinya mampu menyabet piala-piala kejuaraan yang bergengsi, baik untuk modifikasi VW maupun mobil-mobil non VW.Sebagai penggemar fanatik mobil VW dan juga mobil “ceper”, maka nama Rudi ini sudah cukup dikenal di kalangan pemerhati otomotif. Beberapa kali (gak keitung) masuk ke TiVi tentu menambah daya jual bengkel ini.Kalau dipikir-pikir, biaya untuk ikut kejuaraan/kontes otomotif sangat mahal. Untuk membangun sebuah mobil yang pantas memenangkan kontes, maka angka rupiah yang mendekati 500 juta pasti akan habis terpakai. Kalaulah memakai dana “pinjaman” dari sponsor, misalnya BAN, Sound System, Stir, dll, maka paling tidak tetap angka diatas seratus juta rupiah harus disediakan untuk penyediaan chasis, body, cat, pembentukan body dll. Padahal hadiah kejuaraan paling tinggi sekitar 50 juta sampai mungkin 100 juta (ada nggak nih kejuaraan yang hadiahnya 100 juta ya?). Bagi Rudi, yang penting mungkin memang bukan nilai rupiahnya, tapi nilai jual bengkelnya bila sering menang di ajang kontes-kontes mobil bergengsi. Saat ketemu dia aku nggak nyangka kalau dia ini kawan adikku (Sablenk), artinya dia sekampung dengan aku di Yogya dulu. Yah, dunia ini memang sempit.Salah satu kreasinya yang nyleneh terlihat pada mobil ijo ini.
